OkeDailyJatim – Nasib sembilan nelayan asal Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang dilaporkan berada di Australia menjadi perhatian Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). Penelusuran alamat dilakukan untuk membantu memperjelas identitas mereka dan mendukung proses pemulangan.
Ketua DPC HNSI Kabupaten Sumenep, H. Sahnan, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran terhadap alamat para nelayan. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul informasi bahwa dua orang masih terkendala kejelasan alamat sehingga proses pemulangan belum dapat dilanjutkan.
“Informasi yang kami terima, ada sembilan nelayan asal Kecamatan Raas yang saat ini berada di Australia. Kami berupaya menelusuri alamat mereka agar data identitasnya jelas dan bisa membantu proses penanganan lebih lanjut,” kata H. Sahnan kepada media ini, Jum’at (09/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut H. Sahnan, tim HNSI turun langsung untuk menelusuri alamat yang berkaitan dengan para nelayan tersebut. Hasil penelusuran kemudian dihimpun sebagai bahan koordinasi agar informasi yang dibutuhkan pihak terkait dapat segera ditindaklanjuti.
Upaya itu membuahkan hasil. H. Sahnan menyebut alamat dua nelayan yang sebelumnya belum jelas telah berhasil diketahui oleh tim di lapangan. Informasi tersebut selanjutnya disampaikan kepada DPD HNSI Jawa Timur untuk ditindaklanjuti melalui koordinasi organisasi.
“Alhamdulillah, hasil penelusuran tim di lapangan sudah memberikan kejelasan mengenai alamat dua nelayan tersebut. Informasi yang kami peroleh juga telah kami sampaikan kepada DPD HNSI Jawa Timur,” ujarnya.
Berdasarkan data yang diterima, sembilan nama nelayan tersebut adalah Mupaher, Hairi, Aes, Rudi, Hamsu, Heri, Beging, Ulum, dan Sahid. Sebagian alamat tercatat berada di sejumlah dusun di wilayah Tonduk, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep.
Mupaher tercatat berasal dari Alas Malang. Hairi berasal dari Dusun Tonduk Barat, Aes dan Hamsu dari Dusun Tonduk Timur, sedangkan Rudi dan Heri tercatat berasal dari Dusun Tonduk Selatan. Beging tercatat tinggal di Dusun Tonduk Tengah.
Sementara itu, alamat Ulum dan Sahid masih memerlukan verifikasi lebih lanjut berdasarkan dokumen yang tersedia. Kejelasan identitas dan alamat menjadi bagian penting dalam proses administrasi, tetapi belum otomatis menjamin seluruh persyaratan pemulangan telah terpenuhi.
H. Sahnan berharap hasil penelusuran yang telah dilakukan dapat membantu memperlancar komunikasi antara organisasi nelayan dan pihak berwenang. Ia menilai koordinasi diperlukan agar persoalan yang dihadapi nelayan asal Sumenep tersebut memperoleh penanganan sesuai prosedur.
“Kami berharap data yang sudah ditemukan bisa membantu koordinasi dengan pihak terkait. Kejelasan identitas dan alamat sangat penting agar penanganan terhadap para nelayan ini dapat berjalan sesuai prosedur yang berlaku,” ungkap H. Sahnan.
Ia juga berharap seluruh pihak terkait memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Bagi keluarga nelayan di Raas, kepastian informasi dan kabar mengenai proses pemulangan menjadi hal yang sangat dinantikan.
“Harapan kami, ada tindak lanjut yang baik dari semua pihak yang berwenang. Semoga upaya penelusuran ini bisa membantu proses penanganan dan membuka jalan bagi para nelayan untuk kembali ke tanah air,” pungkasnya.
Hingga berita ini disusun, jadwal pemulangan kesembilan nelayan tersebut belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia. Perkembangan selanjutnya masih memerlukan konfirmasi dari pihak berwenang di Indonesia maupun Australia.















