OkeDailyJatim – Puluhan siswa dan santri MTs-MA Bustanul Ulum Ellak Daya, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, tidak ingin aktivitas belajar hanya berhenti di ruang kelas.
Sebanyak 60 siswa dan santri justru diajak menyusuri dunia literasi melalui kunjungan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep, Kamis (8/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi pengalaman berbeda bagi para pelajar. Mereka tidak sekadar datang untuk membaca buku, tetapi juga diperkenalkan dengan perpustakaan sebagai ruang terbuka untuk menggali pengetahuan, mencari informasi, hingga membangun keberanian berpikir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Guru pembimbing MTs-MA Bustanul Ulum Ellak Daya, Ibnu Gazali, mengatakan kegiatan wisata literasi tersebut lahir dari keinginan para siswa sendiri.
Menurutnya, siswa membutuhkan akses bacaan yang lebih luas setelah sebagian besar koleksi di perpustakaan sekolah mereka telah dibaca.
“Anak-anak mengusulkan sendiri kegiatan ini karena koleksi buku di perpustakaan sekolah sudah banyak mereka baca. Karena itu, kami ingin membawa mereka mendapatkan pengalaman dan wawasan baru,” ujar Ibnu Gazali.
Ia menilai kunjungan ke perpustakaan daerah memberikan pengalaman belajar yang tidak selalu bisa diperoleh melalui pembelajaran konvensional di sekolah.
Bagi Ibnu, perpustakaan dapat menjadi ruang yang mempertemukan siswa dengan berbagai sumber pengetahuan sekaligus mendorong mereka lebih mandiri dalam mencari informasi.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa belajar tidak hanya dilakukan di dalam kelas. Perpustakaan memberikan ruang yang lebih luas bagi mereka untuk mencari informasi dan menemukan pengetahuan baru,” katanya.
Menurut dia, budaya membaca tidak cukup dibangun dengan meminta siswa membuka buku. Yang lebih penting adalah menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga membaca menjadi aktivitas yang dilakukan secara sadar.
Karena itu, pengalaman yang diperoleh siswa dari wisata literasi diharapkan dapat berlanjut menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, anak-anak semakin senang membaca. Mereka tidak hanya membaca untuk menyelesaikan tugas, tetapi membaca karena ingin mengetahui sesuatu, kemudian berani berdiskusi dan menyampaikan gagasan,” jelas Ibnu Gazali.
Ia juga menekankan bahwa literasi memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca.
Siswa, kata dia, perlu memiliki kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, berpikir kritis, serta menghubungkan apa yang mereka baca dengan kondisi di lingkungan sekitar.
“Membaca bukan sekadar mengeja kata. Anak-anak harus memahami isi bacaan, berpikir kritis, lalu mampu mengubah pengetahuan itu menjadi gagasan dan tindakan yang bermanfaat,” tandasnya.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Muda Dispusip Kabupaten Sumenep, Drs. Syaiful Bahri, menyambut positif kunjungan 60 siswa dan santri MTs-MA Bustanul Ulum Ellak Daya.
Ia mengatakan keterlibatan pelajar dalam kegiatan literasi menjadi bagian penting untuk mendekatkan perpustakaan dengan generasi muda.
Menurut Syaiful, perpustakaan harus mampu mengubah kesan lama sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku menjadi ruang belajar yang hidup dan terbuka bagi masyarakat.
“Kami menyambut baik kunjungan MTs-MA Bustanul Ulum Ellak Daya. Perpustakaan harus menjadi ruang belajar yang dekat dengan anak-anak, sehingga mereka merasa nyaman datang, membaca, mencari informasi, dan mengembangkan pengetahuan,” ujar Syaiful.
Ia menilai kebiasaan membaca tidak dapat tumbuh secara instan. Diperlukan pengalaman positif dan lingkungan yang mendukung agar anak-anak merasa bahwa membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan.
Karena itu, kolaborasi antara sekolah dan perpustakaan menjadi salah satu kunci untuk memperluas kesempatan pelajar mengenal beragam sumber bacaan.
“Kami berharap kunjungan ini tidak berhenti pada satu kegiatan. Setelah mengenal perpustakaan, anak-anak bisa kembali datang dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Kunjungan 60 siswa dan santri MTs-MA Bustanul Ulum Ellak Daya ke Perpusda Sumenep tersebut menjadi salah satu upaya mempertemukan pelajar dengan sumber pengetahuan di luar lingkungan sekolah.
Para siswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal koleksi dan layanan perpustakaan daerah sekaligus melihat secara langsung bahwa proses belajar dapat berlangsung di berbagai tempat.
Wisata literasi juga membuka ruang bagi siswa untuk membangun rasa ingin tahu. Dari membaca, mereka dapat menemukan informasi baru yang kemudian menjadi bahan untuk berdiskusi dan melahirkan gagasan.
Hal tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan generasi muda terhadap kemampuan memilah dan memahami informasi.
Literasi pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang dibaca. Lebih dari itu, literasi berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami informasi, berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan menggunakan pengetahuan secara positif.
Bagi MTs-MA Bustanul Ulum Ellak Daya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman pembelajaran yang membawa siswa keluar dari rutinitas kelas dan mempertemukan mereka secara langsung dengan pusat sumber pengetahuan.















