SUMENEP, OkeDailyJatim – Sejarah bukan sekadar catatan yang tertulis di atas kertas tua. Ia menyimpan kenangan, pertarungan, juga luka yang kadang belum sepenuhnya kering hingga hari ini. Dengan memohon ridho Allah SWT, saya berdiri dengan hati yang rendah untuk menyampaikan sesuatu yang telah lama membebani perasaan: permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat Aceh dan para penerus pejuang Kesultanan Aceh Darussalam.
Catatan masa lalu mencatat, pada masa kelam penjajahan Belanda, sebagian prajurit dari Barisan Madura asal Sumenep pernah terlibat dalam serangan terhadap wilayah Kesultanan Aceh Darussalam. Saya sepenuhnya sadar, hal itu terjadi di tengah situasi bangsa yang sedang terbelenggu. Pihak penjajah dengan licik memainkan strategi adu domba, memaksakan kehendak, dan menjadikan anak-anak bangsa sebagai alat demi kepentingan kekuasaan mereka sendiri. Langkah yang diambil para leluhur saat itu bukanlah atas kemauan hati sendiri, melainkan karena tekanan kolonial yang tak terelakkan.
Namun, apa pun latar belakang yang menyertai peristiwa itu, sejarah tetaplah sejarah. Luka yang tertanam di hati saudara-saudara kami di Aceh sungguh nyata. Air mata yang jatuh, pengorbanan yang diberikan, serta kehilangan yang dialami saat itu adalah kenyataan yang tidak akan pernah saya sangkal, dan tidak akan saya lupakan sepanjang masa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kini, sebagai generasi penerus, saya tidak datang untuk mencari alasan atau membenarkan apa yang pernah terjadi. Saya datang semata untuk merendahkan hati, mengakui kelamnya masa lalu, dan memohon keikhlasan hati kalian untuk memaafkan segala perbuatan yang pernah menimbulkan rasa sakit dan kerugian.
Langkah ini saya ambil sebagai bukti komitmen yang teguh untuk merawat dan memperkokoh ukhuwah Islamiyah, serta persaudaraan sesama anak bangsa Indonesia. Darah yang mengalir di nadi kita semuanya adalah darah pejuang yang mencintai tanah air, keyakinan yang kita anut adalah satu jalan menuju Tuhan Yang Maha Pengasih. Perpecahan dan dendam adalah apa yang selalu diinginkan oleh mereka yang ingin melemahkan kita, sedangkan persatuan adalah kekuatan terbesar yang kita miliki.
Semoga dengan permohonan maaf ini, pintu saling memaafkan terbuka lebar. Semoga luka masa lalu perlahan terhapus digantikan oleh hubungan yang erat, saling menguatkan, dan bergandengan tangan membangun Indonesia yang semakin kuat, bermartabat, bersatu, dan dirahmati Allah SWT.
Hormat saya,
Batu Kencana










