OkeDailyJatim – Persoalan kesehatan reproduksi tidak cukup hanya dibicarakan ketika masalah datang. Pengetahuan yang benar justru menjadi benteng pertama agar perempuan mampu menjaga diri, mengambil keputusan secara bijak, dan menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya bagi lingkungan sekitarnya.
Semangat itulah yang dibawa Program Fatayat Berwawasan Adidaya (Fatwa) PC Fatayat NU Sumenep dalam Pertemuan Triwulan PAC Fatayat NU Ganding bersama Pengurus Ranting (PR) dan Pengurus Anak Ranting (PAR) se-Kecamatan Ganding.
Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Raudlatul Iman, Desa Gadu Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep tersebut tidak sekadar menjadi forum konsolidasi organisasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan itu berkembang menjadi ruang belajar bersama, khususnya ketika Bidang Kesehatan Lingkungan (Kesling) PC Fatayat NU Sumenep menghadirkan edukasi mengenai kesehatan reproduksi.
Ning Liziyyannida didapuk sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Panduan Cerdas Menggunakan Kontrasepsi Oral (Pil KB)”.
Di hadapan para kader, Ning Lizy mengurai pentingnya memahami kontrasepsi secara benar. Menurutnya, penggunaan pil KB bukan hanya soal mengonsumsi obat, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan dan pemahaman terhadap aturan penggunaannya.
“Pil KB harus dikonsumsi secara tepat dan disiplin sesuai jadwal. Pemahaman ini penting agar efektivitas kontrasepsi tetap terjaga,” ujar Ning Lizy.
Materi kemudian diarahkan pada pengenalan sejumlah jenis pil KB. Peserta mendapatkan penjelasan bahwa perbedaan kemasan juga berkaitan dengan tata cara penggunaan yang harus dipahami oleh penggunanya.
Ning Lizy menjelaskan, terdapat pil KB dengan kemasan 21 hari, 28 hari, hingga mini pil yang umumnya digunakan oleh ibu menyusui. Setiap jenis memiliki karakteristik dan aturan penggunaan yang perlu diperhatikan.
Pembahasan semakin menarik ketika peserta diajak memahami situasi yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yakni lupa mengonsumsi pil sesuai jadwal.
Menurut Ning Lizy, pengguna tidak perlu langsung panik ketika menghadapi kondisi tersebut. Namun, langkah yang dilakukan harus disesuaikan dengan jenis pil dan waktu ketika dosis terlewat.
“Saat lupa minum pil, jangan langsung panik. Tindakan berikutnya perlu disesuaikan dengan jenis pil dan kapan pil tersebut terlupa,” jelasnya.
Dari persoalan teknis penggunaan kontrasepsi, forum kemudian bergerak lebih luas. Para kader mulai mengajukan pertanyaan berdasarkan persoalan yang mereka temui di lingkungan masing-masing.
Mulai dari efek samping kontrasepsi, penggunaan obat tertentu untuk menunda haid, hingga kontrasepsi darurat menjadi bagian dari diskusi yang berlangsung secara interaktif.
Antusiasme peserta memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap literasi kesehatan reproduksi masih sangat besar. Kader di tingkat bawah dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan keluarga dan masyarakat.
Ning Lizy menilai kader Fatayat tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan organisasi. Mereka juga perlu memiliki bekal pengetahuan yang dapat digunakan ketika masyarakat membutuhkan informasi.
“Kader Fatayat harus punya pengetahuan yang cukup agar mampu menjawab pertanyaan masyarakat dengan informasi yang tepat, bukan sekadar asumsi,” tegas Ning Lizy.
Bagi Fatayat NU, penguatan kapasitas kader perempuan menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi. Kader yang memiliki pengetahuan diharapkan tidak hanya mampu menjaga dirinya sendiri, tetapi juga menjadi penggerak edukasi di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Ketua PAC Fatayat NU Ganding, Nyai Hj. Jamiatus Sholehah, mengatakan edukasi kesehatan reproduksi memiliki arti penting bagi penguatan kapasitas perempuan, terutama generasi muda NU.
Ia menilai pengetahuan kesehatan dapat membantu kader lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai persoalan sekaligus mendorong mereka mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
“Pembekalan seperti ini penting untuk mencetak kader perempuan muda NU yang tangguh, mandiri, dan berdaya,” pungkas Jamiatus Sholehah.
Program Fatwa pun menjadi lebih dari sekadar agenda pertemuan kader. Program tersebut menghadirkan ruang edukasi yang menyentuh persoalan nyata dan dekat dengan kehidupan perempuan.
Melalui penguatan literasi kesehatan reproduksi, PC Fatayat NU Sumenep berupaya menyiapkan kader yang tidak hanya kuat secara organisasi, tetapi juga memiliki wawasan dan keberanian untuk menjadi bagian dari perubahan di lingkungan masing-masing.










