Jejak Tionghoa dan Majapahit Bertemu di Dungkek Sumenep, Ini Kisah yang Terungkap

- Editorial Team

Sabtu, 19 September 2026 - 16:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Budayawan H. Ibnu Hajar, M.Pd

Budayawan H. Ibnu Hajar, M.Pd

Setelah Lau Kuntung meninggal dunia, proses pembangunan disebut dilanjutkan oleh cucunya, Lau Piangu, bersama sejumlah tenaga bangunan keturunan Tionghoa.

“Karena arsiteknya Cina, dia juga banyak mempekerjakan orang-orang Cina yang ada di Sumenep, terutama di Dungkek. Mereka juga ahli bangunan,” tuturnya.

Keterlibatan tersebut menunjukkan adanya hubungan keterampilan dan mobilitas masyarakat yang telah terbangun antara Dungkek dengan pusat pemerintahan Sumenep pada masa itu.

Dungkek juga disebut memiliki sumber material yang digunakan dalam pembangunan Masjid Jami’ Sumenep. Salah satunya berasal dari kawasan perbukitan yang sejak dahulu dikenal sebagai sumber material bangunan.

Menurut Ibnu Hajar, hubungan masyarakat pribumi dengan komunitas Tionghoa di Dungkek tidak hanya terbentuk melalui aktivitas perdagangan.

Interaksi sosial berkembang semakin luas melalui perkawinan. Sebagian warga keturunan Tionghoa disebut menikah dengan masyarakat pribumi dan kemudian memeluk Islam.

Baca Juga:  Polantas Sumenep Edukasi Humanis Pengguna Sepeda Listrik Tanpa Helm

“Jadi toleransi di situ sudah terbangun sejak lama. Pertama melalui jalan dagang, perdagangan. Yang kedua melalui perkawinan,” ungkap Ibnu Hajar.

Perdagangan menjadi salah satu ruang perjumpaan masyarakat dari latar belakang berbeda. Komoditas seperti gula merah disebut ikut menggerakkan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Dari hubungan ekonomi, interaksi kemudian berkembang menjadi hubungan sosial. Kehidupan masyarakat berjalan dengan berbagai latar etnis dan agama yang saling berdekatan.

Baca Juga:  Maulid Nabi dan HUT ke-81 RI, Disnaker Sumenep Tekankan Keteladanan Rasul dan Semangat Pengabdian ASN

Jejak komunitas Tionghoa hingga kini juga disebut masih terlihat di Dungkek. Salah satunya melalui keberadaan kompleks pemakaman Tionghoa yang menjadi bagian dari sejarah kawasan tersebut.

Ibnu Hajar menyebut lahan pemakaman itu merupakan pemberian Sultan Abdurrahman. Pada masa tersebut, tanah itu disebut dibebaskan dari kewajiban pajak.

Penulis : Mas'udi

Editor : Slamet Bae

Sumber Berita: Okedaily Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jatim.okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Festival Kerapan Sapi Betina Giliraja Jadi Magnet Budaya dan Wisata Sumenep 2026
MEC 2026 Sumenep Bawa Keraton ke Panggung, Budaya Madura Disulap Jadi Magnet Wisata
GERCAP Kemenag Sumenep Perkuat Kompetensi Guru As-Assalam di Era Pembelajaran Mendalam
Siswi MAN Sumenep Tembus Final Health Innovation Festival, Bawa Pesan Pertolongan Pertama Lewat Poster Infografis
Moh. Fikriyanto Nahkodai PBFI Sumenep Periode 2026-2030
Piala AF Sport U-17 Segera Digelar di Sumenep
Wartawan Pemula Jangan Terpinggirkan, SMSI Sumenep Dorong UKW Digelar di Madura
Akhlak Rasulullah Jadi Cermin, BKAD Sumenep Perkuat Kebersamaan Lewat Maulid Nabi Muhammad SAW

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 17:26 WIB

Festival Kerapan Sapi Betina Giliraja Jadi Magnet Budaya dan Wisata Sumenep 2026

Minggu, 20 September 2026 - 08:48 WIB

MEC 2026 Sumenep Bawa Keraton ke Panggung, Budaya Madura Disulap Jadi Magnet Wisata

Sabtu, 19 September 2026 - 23:59 WIB

GERCAP Kemenag Sumenep Perkuat Kompetensi Guru As-Assalam di Era Pembelajaran Mendalam

Sabtu, 19 September 2026 - 20:50 WIB

Siswi MAN Sumenep Tembus Final Health Innovation Festival, Bawa Pesan Pertolongan Pertama Lewat Poster Infografis

Sabtu, 19 September 2026 - 19:06 WIB

Moh. Fikriyanto Nahkodai PBFI Sumenep Periode 2026-2030

Berita Terbaru