Setelah Lau Kuntung meninggal dunia, proses pembangunan disebut dilanjutkan oleh cucunya, Lau Piangu, bersama sejumlah tenaga bangunan keturunan Tionghoa.
“Karena arsiteknya Cina, dia juga banyak mempekerjakan orang-orang Cina yang ada di Sumenep, terutama di Dungkek. Mereka juga ahli bangunan,” tuturnya.
Keterlibatan tersebut menunjukkan adanya hubungan keterampilan dan mobilitas masyarakat yang telah terbangun antara Dungkek dengan pusat pemerintahan Sumenep pada masa itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dungkek juga disebut memiliki sumber material yang digunakan dalam pembangunan Masjid Jami’ Sumenep. Salah satunya berasal dari kawasan perbukitan yang sejak dahulu dikenal sebagai sumber material bangunan.
Menurut Ibnu Hajar, hubungan masyarakat pribumi dengan komunitas Tionghoa di Dungkek tidak hanya terbentuk melalui aktivitas perdagangan.
Interaksi sosial berkembang semakin luas melalui perkawinan. Sebagian warga keturunan Tionghoa disebut menikah dengan masyarakat pribumi dan kemudian memeluk Islam.
“Jadi toleransi di situ sudah terbangun sejak lama. Pertama melalui jalan dagang, perdagangan. Yang kedua melalui perkawinan,” ungkap Ibnu Hajar.
Perdagangan menjadi salah satu ruang perjumpaan masyarakat dari latar belakang berbeda. Komoditas seperti gula merah disebut ikut menggerakkan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Dari hubungan ekonomi, interaksi kemudian berkembang menjadi hubungan sosial. Kehidupan masyarakat berjalan dengan berbagai latar etnis dan agama yang saling berdekatan.
Jejak komunitas Tionghoa hingga kini juga disebut masih terlihat di Dungkek. Salah satunya melalui keberadaan kompleks pemakaman Tionghoa yang menjadi bagian dari sejarah kawasan tersebut.
Ibnu Hajar menyebut lahan pemakaman itu merupakan pemberian Sultan Abdurrahman. Pada masa tersebut, tanah itu disebut dibebaskan dari kewajiban pajak.
Penulis : Mas'udi
Editor : Slamet Bae
Sumber Berita: Okedaily Jatim
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya















