Bagi Ibnu Hajar, sejarah Dungkek tidak hanya berbicara tentang keberadaan komunitas Tionghoa. Lebih dari itu, sejarah tersebut memperlihatkan ruang perjumpaan masyarakat dengan latar etnis dan agama yang berbeda.
Perdagangan, perkawinan, pembangunan, hingga kehidupan sosial menjadi jalur yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Jejak tersebut membuat toleransi di Dungkek disebut bukan sebagai fenomena baru. Nilai hidup berdampingan justru tumbuh melalui interaksi masyarakat dalam perjalanan sejarah yang panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bicara toleransi di Dungkek itu sudah mulai sejak Pra-Majapahit,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menjadi penutup penting dari kisah panjang Dungkek sebagai kawasan yang menyimpan jejak perdagangan, keberagaman, serta perjumpaan budaya.
Sejarah Dungkek pada akhirnya menunjukkan bahwa pelabuhan bukan sekadar tempat keluar-masuk barang. Di dalamnya juga tumbuh hubungan antar manusia yang meninggalkan jejak sosial dan budaya hingga generasi sekarang.
Penulis : Mas'udi
Editor : Slamet Bae
Sumber Berita: Okedaily Jatim















