“Sekarang difungsikan menjadi kuburan Cina. Bahkan di Dungkek juga ada gereja dan tidak ada masalah dengan masyarakat sekitarnya,” jelasnya.
Keberadaan pemakaman dan rumah ibadah tersebut, menurut Ibnu Hajar, menjadi bagian dari perjalanan sosial masyarakat Dungkek yang telah lama hidup berdampingan dalam keberagaman.
Jejak masyarakat Tionghoa dari Dungkek juga disebut tidak berhenti di kawasan tersebut. Aktivitas perdagangan kemudian membawa sebagian komunitasnya ke sejumlah wilayah lain di Sumenep.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sekitar perempatan Andulang dan Longos, misalnya, jejak tersebut disebut pernah terlihat melalui aktivitas perdagangan serta keberadaan toko milik warga keturunan Tionghoa.
Pergerakan itu memperlihatkan bahwa hubungan ekonomi menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan komunitas Tionghoa dengan masyarakat di berbagai kawasan Sumenep.
Namun, Ibnu Hajar membedakan sejarah komunitas Tionghoa Dungkek dengan keberadaan komunitas Tionghoa di Pasongsongan.
Menurut dia, kisah keberadaan komunitas Tionghoa di Pasongsongan berkaitan dengan gelombang pelarian warga Tionghoa dari Semarang setelah tragedi pembantaian.
Sementara Dungkek, kata dia, memiliki petunjuk sejarah yang dikaitkan dengan masa lebih awal. Salah satu dasar yang disebut adalah temuan arca peninggalan Majapahit di kawasan pelabuhan Dungkek.
“Kalau berdasarkan temuan itu, Dungkek lebih dulu. Arca peninggalan Majapahit ditemukan di pelabuhan Dungkek dan sekarang tersimpan di museum,” tambah Ibnu Hajar.
Atas dasar temuan tersebut, Ibnu Hajar menyebut terdapat dugaan bahwa keberadaan komunitas Tionghoa di Dungkek lebih tua dibandingkan komunitas Tionghoa di Pasongsongan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kronologi sejarah tersebut tetap perlu dibaca berdasarkan temuan arkeologis, sumber sejarah, dan kajian lebih lanjut.
Penulis : Mas'udi
Editor : Slamet Bae
Sumber Berita: Okedaily Jatim
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya















