OkeDailyJatim – Puncak panen tembakau Madura 2026 kembali mengangkat persoalan pasar. Produksi melimpah dinilai harus diimbangi pembelian agar petani tidak kesulitan menjual.
Sejumlah petani mulai menghadapi antrean di titik pembelian. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian agar hasil panen tidak berubah menjadi beban ekonomi.
Pemerhati kebijakan sekaligus Sekjen APSI, Sulaisi Abdurrazaq, mendorong industri tembakau memperluas pembelian hasil panen petani Madura secara lebih terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Sulaisi, petani telah mengeluarkan modal, tenaga, dan waktu sejak masa tanam. Karena itu, hasil panen harus memperoleh pasar yang layak dan harga sesuai mutu.
“Petani tidak meminta belas kasihan. Mereka membutuhkan pasar dan penghargaan layak atas kerja kerasnya. Tembakau berkualitas harus dibeli dengan harga bagus,” kata Sulaisi, Rabu (26/08/2026).
Sulaisi menilai keterbatasan titik pembelian dapat membuat petani dan pedagang bergantung pada gudang tertentu. Akibatnya, antrean panjang berpotensi terjadi.
Fenomena antrean tersebut, kata Sulaisi, salah satunya terlihat di gudang milik H. Her, Pamekasan. Kendaraan pengangkut tembakau disebut mengular hingga sekitar satu kilometer.
“Antrean panjang memang menunjukkan adanya penyerapan. Namun, kondisi itu juga menandakan kapasitas pasar tembakau Madura masih perlu diperbesar,” ujarnya.
Menurut dia, pembukaan titik pembelian baru penting untuk mengurangi penumpukan kendaraan. Langkah itu sekaligus memberi ruang bagi petani menawarkan panen kepada lebih banyak pembeli.
“Kita prihatin jika petani harus mengantre berhari-hari. Mereka membawa panen sebagai sumber penghidupan keluarga, sehingga pengusaha penyerap patut diapresiasi,” tambah Sulaisi
Dirinya berharap perusahaan besar seperti Djarum, Sampoerna, Gudang Garam, dan pelaku industri lainnya ikut memperluas serapan tembakau Madura selama musim panen.
“Pengusaha besar mari hadir membantu petani tembakau Madura. Buka pasar seluas-luasnya dan berikan harga sesuai kualitas agar panen tidak sulit terjual,” tegasnya.
Ia menegaskan, perluasan pasar tidak berarti standar mutu harus diabaikan. Mekanisme pembelian tetap mempertimbangkan kualitas, tetapi akses petani perlu dibuka lebih luas.
“Industri membutuhkan bahan baku, sedangkan petani membutuhkan pasar. Hubungan itu harus seimbang agar industri mendapat pasokan dan petani tidak kesulitan,” tutur Sulaisi.
Perputaran tembakau Madura bukan hanya menyangkut petani. Pedagang, buruh tani, pekerja angkut, tenaga gudang, dan masyarakat ikut bergantung pada aktivitas komoditas tersebut.
“Kalau industri mengambil bahan baku dari Madura, petani harus menjadi perhatian. Jangan sampai petani berjuang sendiri tanpa kepastian pasar,” jelasnya.
Sulaisi juga meminta pemerintah mengambil langkah konkret. Salah satunya menerbitkan surat edaran kepada pengusaha tembakau agar memperbesar serapan selama panen 2026.
“Pemerintah harus hadir. Jika perlu, segera keluarkan surat edaran dan dorong pengusaha membuka pasar serta meningkatkan penyerapan. Petani jangan sendiri,” imbuh Sulaisi.
Menurutnya, persoalan tembakau tidak cukup diselesaikan dengan bantuan sesaat. Ekosistem perdagangan perlu dibangun agar mutu, pasar, harga, dan keberlanjutan berjalan bersama.
“Petani harus didorong menghasilkan tembakau berkualitas. Industri perlu menyediakan pasar dan memberi nilai pembelian sepadan agar mata rantai perdagangan menjadi sehat,” sambungnya.
Musim panen tembakau Madura 2026 diharapkan menjadi momentum memperkuat kerja sama antara petani, perusahaan, pedagang, dan pemerintah untuk menciptakan pasar yang lebih adil.
“Jika petani, industri, dan pemerintah berjalan bersama, petani dapat bertahan sekaligus meningkatkan kualitas. Kepastian pasar inilah yang harus dijaga,” pungkas Sulaisi.










