SUMENEP, OkeDailyJatim – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep mempertegas komitmennya dalam membangun lingkungan pondok pesantren yang aman, nyaman, inklusif, dan berpihak pada kepentingan terbaik bagi santri.
Langkah tersebut diwujudkan melalui Pertemuan Perdana Forum Komunikasi Pesantren Ramah Anak (FK PRA) yang dirangkaikan dengan peluncuran layanan Halo Santri, sebuah inovasi layanan yang diinisiasi Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Sumenep.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung PCNU Sumenep, Sabtu (18/7), itu dihadiri Kepala Kantor Kemenag Sumenep Abdul Wasid, Pelaksana Tugas (Plt.) Kasi PD Pontren, jajaran Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), serta pengurus Forum Komunikasi Pesantren Ramah Anak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Forum tersebut menjadi langkah awal menyatukan komitmen berbagai pihak dalam memperkuat sistem perlindungan santri melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pesantren Ramah Anak dan konselor santri secara bertahap di setiap pondok pesantren di Kabupaten Sumenep.
Kepala Kantor Kemenag Sumenep, Abdul Wasid, mengatakan bahwa penguatan budaya perlindungan anak di lingkungan pesantren tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi seluruh elemen yang terlibat dalam pendidikan keagamaan.
“Pesantren memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi bangsa. Karena itu, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan setiap santri tumbuh dan belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, terlindungi, serta bebas dari segala bentuk kekerasan,” ujar Abdul Wasid.
Menurut dia, kehadiran Halo Santri bukan sekadar layanan pengaduan, tetapi dirancang sebagai ruang komunikasi, konsultasi, edukasi, dan pendampingan yang dapat diakses santri ketika membutuhkan dukungan maupun penyelesaian persoalan yang dihadapi selama berada di lingkungan pesantren.
“Halo Santri kami hadirkan sebagai jembatan komunikasi antara santri, pengasuh, dan para pendamping. Layanan ini diharapkan mampu membangun budaya saling peduli, saling mendengar, dan memberikan pendampingan yang tepat sehingga setiap persoalan dapat diselesaikan secara bijaksana,” katanya.
Selain meluncurkan inovasi layanan tersebut, Kemenag Sumenep juga mulai menyusun langkah strategis pembentukan Satgas Pesantren Ramah Anak beserta konselor santri di setiap pondok pesantren.
Keberadaan tim tersebut diharapkan menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan, perlindungan, pendampingan, hingga penguatan karakter santri.
Abdul Wasid menegaskan, keberhasilan program Pesantren Ramah Anak sangat bergantung pada kolaborasi antara Kemenag, pengelola pesantren, organisasi kepesantrenan, tenaga psikologi, serta seluruh elemen masyarakat.
“Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga komitmen dan memperkuat kolaborasi. Ketika kita bergerak bersama, saya optimistis seluruh pondok pesantren di Kabupaten Sumenep mampu menjadi ruang pendidikan yang ramah anak, inklusif, humanis, dan melahirkan generasi yang berakhlak mulia serta berkualitas,” tuturnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Plt. Kasi PD Pontren, RMI, HIMPSI, Forum Komunikasi Pesantren Ramah Anak, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi menginisiasi gerakan tersebut.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan keagamaan yang semakin berkualitas sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap dunia pesantren.
Melalui peluncuran Halo Santri dan pembentukan Forum Komunikasi Pesantren Ramah Anak, Kemenag Sumenep berharap tercipta ekosistem pesantren yang tidak hanya unggul dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan seluruh potensi santri.
Penulis : Supriyadi Prayitno
Editor : Thaifur Rasyid
Sumber Berita: OkeDailyJatim










