OkeDailyJatim – Demokrasi bukan sekadar soal menang dan kalah dalam pilihan politik. Di Saronggi, Sumenep, demokrasi didorong tetap berpijak pada etika, budaya, persaudaraan, dan suara nurani masyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam Sosialisasi Etika Politik di Pendopo Kecamatan Saronggi, Rabu (19/8/2026). Forum tersebut mempertemukan pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perangkat desa.
Mengusung tema “Masyarakat sebagai Penjaga Nurani Demokrasi, Implementasi Buppa’, Babbu’, Guru, Rato”, kegiatan ini menempatkan kearifan lokal Madura sebagai kekuatan untuk merawat demokrasi di tengah perbedaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Camat Saronggi Arman Mustafa, S.Sos., MH, mengapresiasi Bakesbangpol Sumenep yang membuka ruang edukasi politik bagi masyarakat. Menurutnya, pemahaman etika diperlukan agar demokrasi tetap berjalan sehat.
“Demokrasi harus dijalankan dengan menjaga persatuan, ketertiban, dan rasa saling menghormati. Perbedaan pilihan politik jangan sampai merusak hubungan sosial yang sudah terbangun,” ujar Arman.
Ia menilai falsafah Buppa’, Babbu’, Guru, Rato bukan hanya warisan budaya, tetapi juga pedoman moral masyarakat Madura. Nilai tersebut dinilai relevan untuk menghadapi dinamika politik yang terus berkembang.
“Nilai Buppa’, Babbu’, Guru, Rato mengajarkan penghormatan dan persaudaraan. Karena itu, perbedaan pilihan politik harus tetap ditempatkan dalam suasana damai dan tidak menjadi sumber perpecahan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Bakesbangpol Sumenep Dr. Edy Suprayitno, S.H., M.Si., menegaskan penguatan etika politik merupakan bagian penting dalam membangun demokrasi yang matang, sehat, dan berkarakter.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya memahami hak politiknya, tetapi juga menyadari tanggung jawab menjaga suasana demokrasi agar tetap aman, damai, tertib, dan penuh rasa saling menghormati,” kata Edy.
Menurut Edy, demokrasi membutuhkan partisipasi masyarakat yang dewasa. Kebebasan menyampaikan pilihan harus berjalan bersama kesadaran menjaga persatuan agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik sosial.
“Demokrasi bukan hanya menggunakan hak memilih. Lebih dari itu, masyarakat harus mampu menghormati perbedaan, menjaga etika, serta tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan politik yang bersifat sesaat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kearifan lokal memiliki posisi strategis dalam memperkuat karakter demokrasi. Nilai yang hidup di tengah masyarakat dapat menjadi benteng sosial ketika suhu politik mengalami peningkatan.
“Buppa’, Babbu’, Guru, Rato memiliki relevansi kuat dalam kehidupan masyarakat. Nilai budaya itu dapat menjadi kekuatan sosial untuk menjaga keseimbangan dan persatuan di tengah perbedaan,” tutur Edy.
Sosialisasi tersebut turut menghadirkan Camat Saronggi Arman Mustafa, Kapolsek Saronggi AKP Edy Hariyanto, serta Danramil Saronggi Kapten Inf. Fahrawi sebagai narasumber dan unsur pendukung kegiatan.
Peserta yang hadir berasal dari perangkat desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Mereka menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran bahwa demokrasi bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh elemen.
Di tengah dinamika politik yang semakin kompleks, etika menjadi pagar agar kebebasan tidak kehilangan arah. Demokrasi membutuhkan perbedaan, tetapi perbedaan itu harus tetap berada dalam batas persaudaraan dan kepentingan bersama.















