MALAYSIA.OkeDailyJatim – Kekayaan budaya Madura kembali menembus panggung internasional. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional, mahasiswa STITA Aqidah Usymuni Sumenep tampil sebagai duta budaya yang memperkenalkan identitas, tradisi, dan nilai-nilai luhur masyarakat Madura kepada para pelajar di Malaysia.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (5/8/2026) itu tidak hanya menjadi bagian dari pengabdian akademik mahasiswa di luar negeri, tetapi juga menjadi jembatan diplomasi budaya yang mempererat hubungan Indonesia dan Malaysia. Di tengah suasana penuh keakraban, para mahasiswa membangun ruang belajar bersama yang mempertemukan dua bangsa serumpun melalui pendidikan, budaya, dan semangat persaudaraan.
Salah satu peserta KKN Internasional, Moh. Syaiful Anwar atau yang akrab disapa Ipunk, menjadi pemateri dalam sesi pengenalan budaya Madura. Dengan penuh antusias, ia memperkenalkan berbagai kekayaan budaya daerah, mulai dari sarung dan kopiah sebagai identitas masyarakat Madura, batik bermotif khas dengan warna-warna berani, bahasa daerah, hingga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Ipunk, budaya Madura tidak hanya dikenal melalui simbol-simbol budaya, tetapi juga melalui karakter masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai religius, kerja keras, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, dan kepedulian terhadap sesama.
“Kami ingin dunia mengenal Madura bukan hanya karena tradisinya, tetapi juga karena nilai-nilai kehidupan yang membentuk karakter masyarakatnya. Itulah warisan yang patut dibanggakan dan terus dilestarikan,” ujar Ipunk, Rabu (05/08/2026).
Dalam pemaparannya, para siswa Malaysia juga diajak mengenal batik Madura yang memiliki corak unik dan filosofi mendalam. Setiap motif mencerminkan sejarah, kreativitas, serta kekayaan seni yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Madura.
Tak hanya itu, tradisi Karapan Sapi dan Sapi Sonok turut diperkenalkan sebagai ikon budaya Pulau Madura. Kedua tradisi tersebut dijelaskan bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan simbol kebersamaan, kerja keras, serta eratnya hubungan masyarakat Madura dengan kehidupan agraris.
Penjelasan yang disampaikan mahasiswa Indonesia mendapat sambutan hangat. Para siswa Malaysia tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari sejarah budaya Madura, makna setiap tradisi, hingga cara generasi muda menjaga warisan budaya agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Suasana diskusi pun berkembang menjadi ajang pertukaran budaya. Para pelajar Malaysia secara bergantian memperkenalkan tradisi dan kebudayaan daerah mereka, sehingga tercipta dialog yang memperkaya wawasan kedua belah pihak.
Interaksi tersebut menunjukkan bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang untuk saling memahami. Sebaliknya, keberagaman menjadi kekuatan yang mempererat persahabatan antara Indonesia dan Malaysia sebagai bangsa serumpun yang memiliki banyak kesamaan sejarah dan budaya.
Melalui program KKN Internasional ini, mahasiswa STITA Aqidah Usymuni Sumenep membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi ujung tombak diplomasi budaya. Dari Pulau Madura, mereka membawa pesan persaudaraan, toleransi, serta kebanggaan terhadap warisan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Program tersebut juga mendapat apresiasi dari pihak lembaga pendidikan di Malaysia yang berharap kerja sama serupa terus berlanjut. Selain memperkuat hubungan antarlembaga pendidikan, kegiatan ini dinilai menjadi langkah nyata dalam mempererat hubungan kedua negara melalui jalur kebudayaan dan pendidikan.
Keberadaan komunitas diaspora Madura di Malaysia pun diharapkan semakin memperkuat upaya pelestarian budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Madura kepada masyarakat dunia.
Melalui langkah kecil yang dilakukan para mahasiswa, budaya Madura kembali menunjukkan bahwa warisan lokal memiliki daya tarik yang mampu melintasi batas negara. Dari Sumenep menuju Malaysia, semangat menjaga budaya berubah menjadi bahasa persahabatan yang menyatukan dua bangsa.










