“Semangat masyarakat dalam festival ini sangat positif. Pemerintah daerah akan terus mendorong kegiatan yang memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Disbudporapar Sumenep, Faruk Hanafi, S.Sos., M.Si., mengatakan kolaborasi dengan FKPPI Sumenep menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat.
“Tongtong merupakan warisan leluhur yang harus dijaga bersama. Festival ini menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan seni Madura kepada masyarakat,” jelas Faruk.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tahun ini, seluruh peserta diwajibkan membawakan tembang “Guwa Pajudan”. Lagu tersebut dipilih untuk mengangkat nilai sejarah sekaligus mengenalkan potensi budaya dan wisata Sumenep.
“Guwa Pajudan kami pilih sebagai lagu wajib untuk mengangkat kembali sejarah dan potensi wisata. Seni budaya bisa menjadi jembatan mengenalkan destinasi daerah,” ungkapnya.
Faruk menilai kehadiran 27 grup dari berbagai wilayah Madura menunjukkan bahwa kesenian tongtong masih memiliki daya tarik kuat. Antusiasme warga juga menjadi energi positif bagi keberlanjutan festival.
“Antusiasme peserta dan masyarakat membuktikan tongtong tetap dicintai. Ini menjadi modal untuk melestarikan budaya sekaligus menguatkan sektor pariwisata,” tandasnya.
Penulis : Sahid Badri
Editor : Mas'udi
Sumber Berita: OkeDailyJatim
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















