SUMENEP, OkeDailyJatim – Di balik suasana tenang Desa Sera Barat, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, berdiri sebuah ruang yang menyimpan jejak panjang perjalanan budaya masyarakat Madura.
Helmi Art Museum bukan sekadar tempat memamerkan benda-benda kuno, melainkan menjadi ruang belajar yang menghadirkan kisah kehidupan masa lampau melalui koleksi autentik yang sarat nilai sejarah.
Sebanyak 12 koleksi unggulan dipamerkan di museum ini. Masing-masing memiliki fungsi dan cerita yang menggambarkan bagaimana masyarakat Madura menjalani kehidupan sehari-hari, mulai dari mencari nafkah, berdagang, bertani, hingga mendokumentasikan perjalanan zaman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Koleksi tersebut di antaranya Kereng, keranjang anyaman bambu untuk menyimpan hasil tangkapan ikan; Tambut, wadah penampung nira siwalan; Karemo sebagai alat pemeras batang manyang; Timbangan Swaci dari Tiongkok yang pernah menjadi alat ukur perdagangan rempah-rempah.
Tongghantong sebagai gantungan kelambu tradisional; Peccok atau tombak penangkap ikan; Parot sebagai alat pemarut kelapa; Belendhungan atau Padasan untuk proses mewarangi keris; Engkal sebagai penggulung tali rampet; Andhok berupa ladam besi untuk kuda;
Serta dua koleksi kamera klasik, yakni Yashica-Mat buatan Jepang dan Bolex H16 buatan Swiss yang menjadi saksi perkembangan teknologi fotografi dan perfilman.
Owner Helmi Art Museum, Helmi, mengatakan setiap benda yang dipamerkan bukan hanya memiliki nilai antik, tetapi juga menyimpan rekam jejak kehidupan masyarakat yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
“Setiap koleksi di museum ini memiliki cerita. Kami ingin generasi muda mengetahui bagaimana nenek moyang mereka bekerja, berkarya, dan membangun peradaban dengan peralatan yang sederhana, tetapi penuh makna,” kata Helmi, Selasa (21/07/2026).
Menurutnya, museum hadir sebagai media edukasi agar masyarakat tidak sekadar mengenal benda-benda kuno, tetapi juga memahami nilai budaya yang melekat di dalamnya.
“Museum bukan tempat menyimpan barang lama. Museum adalah ruang untuk merawat ingatan sejarah agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Helmi menjelaskan, sebagian besar koleksi diperoleh melalui proses pencarian yang panjang dari berbagai daerah di Madura. Setiap benda dipilih berdasarkan nilai historis, keunikan, dan keterkaitannya dengan kehidupan masyarakat tempo dulu.
“Kami berupaya menjaga keaslian setiap koleksi. Perawatan dilakukan secara berkala agar kondisinya tetap baik dan bisa dinikmati oleh masyarakat maupun peneliti,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan Helmi Art Museum dapat menjadi destinasi wisata edukasi yang memperkuat kecintaan masyarakat terhadap sejarah lokal.
“Kami ingin museum ini menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Anak-anak sekolah, mahasiswa, hingga masyarakat umum bisa datang untuk melihat langsung warisan budaya yang selama ini mungkin hanya mereka baca di buku,” tutur Helmi menjelaskan.
Lebih jauh, Helmi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga dan melestarikan benda-benda bersejarah sebagai identitas budaya bangsa.
“Melestarikan benda bersejarah bukan hanya tugas museum. Ini adalah tanggung jawab kita bersama agar warisan budaya Madura tetap dikenal dan dihargai oleh generasi yang akan datang,” pungkasnya.
Melalui koleksi-koleksi tersebut, Helmi Art Museum menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar melihat benda kuno, tetapi juga mengajak pengunjung menyelami perjalanan sejarah, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Madura yang telah bertahan lintas generasi.
Museum ini menjadi bukti bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi penting untuk memahami jati diri di masa depan.
Penulis : Supriyadi Prayitno
Editor : Thaifur Rasyid
Sumber Berita: OkeDailyJatim










