Menyusuri Jejak Peradaban Madura di Helmi Art Museum, 12 Koleksi Langka Jadi Jendela Sejarah

- Editorial Team

Senin, 20 Juli 2026 - 23:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menyusuri Jejak Peradaban Madura di Helmi Art Museum, 12 Koleksi Langka Jadi Jendela Sejarah

Menyusuri Jejak Peradaban Madura di Helmi Art Museum, 12 Koleksi Langka Jadi Jendela Sejarah

SUMENEP, OkeDailyJatim – Di balik suasana tenang Desa Sera Barat, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, berdiri sebuah ruang yang menyimpan jejak panjang perjalanan budaya masyarakat Madura.

Helmi Art Museum bukan sekadar tempat memamerkan benda-benda kuno, melainkan menjadi ruang belajar yang menghadirkan kisah kehidupan masa lampau melalui koleksi autentik yang sarat nilai sejarah.

Sebanyak 12 koleksi unggulan dipamerkan di museum ini. Masing-masing memiliki fungsi dan cerita yang menggambarkan bagaimana masyarakat Madura menjalani kehidupan sehari-hari, mulai dari mencari nafkah, berdagang, bertani, hingga mendokumentasikan perjalanan zaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Koleksi tersebut di antaranya Kereng, keranjang anyaman bambu untuk menyimpan hasil tangkapan ikan; Tambut, wadah penampung nira siwalan; Karemo sebagai alat pemeras batang manyang; Timbangan Swaci dari Tiongkok yang pernah menjadi alat ukur perdagangan rempah-rempah.

Baca Juga:  RSUD Moh Anwar Hadirkan Layanan Terapi Wicara, Gangguan Bicara Bisa Diatasi

Tongghantong sebagai gantungan kelambu tradisional; Peccok atau tombak penangkap ikan; Parot sebagai alat pemarut kelapa; Belendhungan atau Padasan untuk proses mewarangi keris; Engkal sebagai penggulung tali rampet; Andhok berupa ladam besi untuk kuda;

Serta dua koleksi kamera klasik, yakni Yashica-Mat buatan Jepang dan Bolex H16 buatan Swiss yang menjadi saksi perkembangan teknologi fotografi dan perfilman.

Owner Helmi Art Museum, Helmi, mengatakan setiap benda yang dipamerkan bukan hanya memiliki nilai antik, tetapi juga menyimpan rekam jejak kehidupan masyarakat yang tidak boleh hilang ditelan zaman.

“Setiap koleksi di museum ini memiliki cerita. Kami ingin generasi muda mengetahui bagaimana nenek moyang mereka bekerja, berkarya, dan membangun peradaban dengan peralatan yang sederhana, tetapi penuh makna,” kata Helmi, Selasa (21/07/2026).

Menurutnya, museum hadir sebagai media edukasi agar masyarakat tidak sekadar mengenal benda-benda kuno, tetapi juga memahami nilai budaya yang melekat di dalamnya.

“Museum bukan tempat menyimpan barang lama. Museum adalah ruang untuk merawat ingatan sejarah agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Helmi menjelaskan, sebagian besar koleksi diperoleh melalui proses pencarian yang panjang dari berbagai daerah di Madura. Setiap benda dipilih berdasarkan nilai historis, keunikan, dan keterkaitannya dengan kehidupan masyarakat tempo dulu.

“Kami berupaya menjaga keaslian setiap koleksi. Perawatan dilakukan secara berkala agar kondisinya tetap baik dan bisa dinikmati oleh masyarakat maupun peneliti,” ungkapnya.

Ia berharap keberadaan Helmi Art Museum dapat menjadi destinasi wisata edukasi yang memperkuat kecintaan masyarakat terhadap sejarah lokal.

“Kami ingin museum ini menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Anak-anak sekolah, mahasiswa, hingga masyarakat umum bisa datang untuk melihat langsung warisan budaya yang selama ini mungkin hanya mereka baca di buku,” tutur Helmi menjelaskan.

Lebih jauh, Helmi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga dan melestarikan benda-benda bersejarah sebagai identitas budaya bangsa.

“Melestarikan benda bersejarah bukan hanya tugas museum. Ini adalah tanggung jawab kita bersama agar warisan budaya Madura tetap dikenal dan dihargai oleh generasi yang akan datang,” pungkasnya.

Melalui koleksi-koleksi tersebut, Helmi Art Museum menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar melihat benda kuno, tetapi juga mengajak pengunjung menyelami perjalanan sejarah, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Madura yang telah bertahan lintas generasi.

Baca Juga:  KKN Berbasis Pesantren Diluncurkan, Kemenag Sumenep Tekankan Khidmah dan Integritas Mahasiswa

Museum ini menjadi bukti bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi penting untuk memahami jati diri di masa depan.

Penulis : Supriyadi Prayitno

Editor : Thaifur Rasyid

Sumber Berita: OkeDailyJatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel jatim.okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

21 Nelayan Tonduk Terseret Badai hingga Perairan Australia, Keluarga Minta Segera Dipulangkan
DPMPTSP Sumenep Gelar Bimtek LKPM, Realisasi Investasi Capai Rp197,4 Miliar
Dorong Budaya Tertib di Jalan, Satlantas Sumenep Apresiasi Pengendara yang Patuh
Ada Cerita di Balik Rutan, Batik Catra Kenalkan Budaya Indonesia kepada Anak Sejak Dini
Belajar Jadi Penumpang yang Selamat, Siswa SMPN 2 Kalianget Antusias Ikuti Edukasi KSOP
Hari Santri 2026 di Sumenep, Gus Kautsar Bongkar Makna Ilmu dan Harta yang Patut Diteladani
FGD RDTR Sumenep Digelar, Bupati Fauzi Minta Semua Pihak Satu Persepsi
Wabup KH. Imam Hasyim Dorong Santri Jadi Penggerak Ekonomi Lewat Santri Entrepreneur 2026

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:59 WIB

21 Nelayan Tonduk Terseret Badai hingga Perairan Australia, Keluarga Minta Segera Dipulangkan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:45 WIB

DPMPTSP Sumenep Gelar Bimtek LKPM, Realisasi Investasi Capai Rp197,4 Miliar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:10 WIB

Dorong Budaya Tertib di Jalan, Satlantas Sumenep Apresiasi Pengendara yang Patuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:02 WIB

Ada Cerita di Balik Rutan, Batik Catra Kenalkan Budaya Indonesia kepada Anak Sejak Dini

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:52 WIB

Belajar Jadi Penumpang yang Selamat, Siswa SMPN 2 Kalianget Antusias Ikuti Edukasi KSOP

Berita Terbaru