Kiai Bajuri menyebut empat malaikat, yakni Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail, dalam kisah tersebut dikaitkan dengan berbagai bentuk pertolongan bagi umat Nabi Muhammad SAW yang gemar bershalawat.
“Dalam sejumlah riwayat yang disampaikan para ulama, majelis yang dipenuhi shalawat menjadi ruang turunnya rahmat dan keberkahan bagi umat Rasulullah,” ungkapnya.
Kiai Badjuri menjelaskan, kisah yang disampaikan menggambarkan Jibril sebagai penyampai wahyu, Mikail yang berkaitan dengan rezeki, Israfil dengan tiupan sangkakala, dan Izrail dengan tugas mencabut nyawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menuturkan kisah tersebut sebagai bagian dari motivasi agar umat Islam tidak berhenti mencintai Nabi melalui ucapan, tetapi juga berusaha mengikuti akhlak dan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.
Pesan itu kemudian dikaitkan dengan kehidupan aparatur negara. Menurut Badjuri, seorang abdi negara harus mencintai tugas, menjalankan kewajiban, dan menjadikan pengabdian sebagai bagian dari tanggung jawab moral.
“Sebagai abdi negara harus cinta terhadap tugas dan kewajibannya. Lambang Korpri bukan sekadar kebanggaan, tetapi menjadi dasar untuk mencintai negara,” pungkasnya.
Peringatan Maulid Nabi di BRIDA Sumenep akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan keagamaan. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi untuk mempertemukan nilai spiritual, akhlak, dan tanggung jawab dalam kehidupan aparatur.
Di tengah rutinitas pemerintahan, pesan keteladanan Rasulullah SAW kembali dihidupkan. Shalawat, rasa syukur, akhlak, integritas, dan pengabdian menjadi benang merah kegiatan yang diikuti keluarga besar BRIDA Sumenep.
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriyah, keluarga besar BRIDA Sumenep diharapkan semakin solid. Nilai keteladanan Rasulullah pun diharapkan tidak berhenti di ruang acara, tetapi hadir dalam setiap tugas dan pelayanan kepada masyarakat.
Penulis : Mas'udi
Editor : Slamet Bae
Sumber Berita: Okedaily Jatim















