Informasi tersebut nantinya dapat disinergikan dengan data ilmiah dan sistem peringatan dini sehingga masyarakat memiliki kemampuan lebih baik dalam mengenali potensi ancaman.
“Pengetahuan masyarakat sangat berharga. Kearifan lokal dapat menjadi bagian edukasi kebencanaan jika disinergikan dengan informasi ilmiah,” jelas Kamiluddin.
Penguatan kesiapsiagaan juga dilakukan melalui program Desa Tangguh Bencana atau Destana. Hingga saat ini, BPBD Sumenep telah membentuk 53 Destana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembentukan Destana melibatkan berbagai unsur, mulai dari masyarakat, TNI, Polri, Tagana, hingga unsur terkait lainnya di tingkat desa.
Kehadiran Destana diharapkan mampu membangun masyarakat yang tidak hanya sigap ketika bencana terjadi, tetapi juga aktif melakukan pencegahan dan pengurangan risiko.
“Kami ingin ketangguhan masyarakat dibangun dari tingkat desa. Warga harus mampu mengenali risiko dan mengambil langkah awal ketika bencana terjadi,” tegasnya.
BPBD Sumenep juga tengah menyiapkan program Pesantren Tangguh Bencana atau Pestana melalui kerja sama dengan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra).
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan kebencanaan di lingkungan pesantren, khususnya bagi santri dan generasi muda.
Pesantren dinilai memiliki potensi besar menjadi ruang edukasi kebencanaan karena berhubungan langsung dengan aktivitas pendidikan dan kehidupan masyarakat.
“Santri dan pemuda harus memiliki bekal menghadapi bencana. Mereka dapat menjadi penggerak kesiapsiagaan di lingkungan pesantren dan masyarakat,” sambungnya.
Selain penguatan kapasitas masyarakat, BPBD Sumenep mulai menjajaki dukungan pendanaan mitigasi di tingkat desa.
Penulis : Mas'udi
Editor : Slamet Bae
Sumber Berita: Okedaily Jatim
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















