OkeDailyJatim – Musim kemarau yang masih menyelimuti Madura menjadi latar peluncuran buku Tanah Kerontang di Madura: Sebuah Catatan untuk Pulau Kita Tercinta, Selasa (22/9/2026).
Buku karya pendongeng asal Madura, Kak Avan Fathurrahman, itu diluncurkan sekaligus dibedah di Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumenep.
Bukan sekadar catatan tentang tanah yang mengering, buku tersebut membawa pesan tentang pentingnya literasi kebencanaan di tengah masyarakat Madura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kak Avan menjelaskan, buku itu merupakan karya nonfiksi yang merekam informasi dan fakta mengenai persoalan kekeringan yang terjadi di Madura.
“Buku ini saya hadirkan sebagai pemantik agar edukasi kebencanaan terus berlangsung di tengah masyarakat,” kata Kak Avan disela kegiatan.
Ia menilai edukasi kebencanaan perlu dikenalkan sejak dini, khususnya kepada generasi terpelajar agar memahami risiko bencana di lingkungan sekitarnya.
“Para pelajar perlu memahami dunia kebencanaan sejak dini agar mereka memiliki pengetahuan menghadapi berbagai persoalan bencana,” ujarnya.
Menurut Kak Avan, buku dapat menjadi medium untuk menyampaikan informasi kebencanaan dengan bahasa yang lebih mudah dibaca dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Saya berharap buku ini bisa menjadi ruang belajar bersama untuk mengenali persoalan kekeringan dan kebencanaan di Madura,” harap Kak Avan.
Selain menjadi penulis, Kak Avan dikenal sebagai pendongeng, dosen, penyampai radio, sekaligus tenaga pendidik di salah satu sekolah di Kabupaten Sumenep.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris BPBD Sumenep Dr. Abd. Kadir, Tim Inovasi Afifuddin, Kepala Perpustakaan Sumenep, serta penyiar senior RRI Sumenep Ririn Riskiyanti sebagai moderator.
Sekretaris BPBD Sumenep Dr. Abd. Kadir memberikan apresiasi terhadap hadirnya buku yang mengangkat persoalan kekeringan dan edukasi kebencanaan tersebut.
“Saya sangat apresiatif dan acungkan jempol untuk Kak Avan. Buku ini menjadi cara mengedukasi masyarakat,” ujar Abd. Kadir.
Menurut Abd. Kadir, literasi kebencanaan penting untuk membantu masyarakat memahami berbagai persoalan dan risiko yang dapat muncul di lingkungan mereka.
“Edukasi seperti ini penting agar masyarakat semakin memahami dunia kebencanaan dan mampu merespons persoalan dengan lebih baik,” katanya.
Ia menilai buku dan kegiatan literasi dapat menjadi sarana pendukung untuk memperluas pengetahuan masyarakat mengenai kebencanaan secara berkelanjutan.
“Masyarakat perlu terus mendapatkan edukasi agar semakin paham dan responsif terhadap berbagai permasalahan kebencanaan,” jelas Abd. Kadir.
Peluncuran dan bedah buku Tanah Kerontang di Madura juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube RRI Sumenep Net dan Pro 1 RRI Sumenep.
Dengan siaran daring tersebut, pembahasan mengenai kekeringan dan edukasi kebencanaan dapat diikuti masyarakat yang tidak hadir langsung di lokasi acara.
Buku Tanah Kerontang di Madura tercatat sebagai karya Avan Fathurrahman yang diterbitkan Yash Media. Buku tersebut juga tercantum dalam data Book in Print Perpusnas.
Peluncuran buku itu sekaligus membuka ruang percakapan tentang kekeringan, literasi, dan pentingnya membangun kesadaran kebencanaan di Pulau Madura.
Di tengah kemarau yang masih berlangsung, Tanah Kerontang di Madura hadir sebagai catatan sekaligus ajakan untuk memahami persoalan lingkungan melalui kekuatan literasi.
Penulis : Mas'udi
Editor : Slamet Bae
Sumber Berita: Okedaily Jatim















