OkeDailyJatim – Deru kendaraan dan padatnya aktivitas warga biasanya menjadi pemandangan biasa di simpang tiga Mapolresta Sumenep. Namun, Jumat (28/8/2026), suasana di kawasan itu terasa berbeda.
Di tengah lalu lalang pengendara, sejumlah anggota Komunitas Kita Berbagi Sosial (KBS) Sumenep berdiri membawa puluhan nasi bungkus. Mereka datang bukan untuk mencari perhatian, melainkan ingin berbagi makanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sebanyak 75 bungkus nasi dibagikan dalam kegiatan sosial yang mereka sebut bungturat, singkatan dari nasi bungkus tujuan akhirat. Sasaran utamanya adalah warga yang melintas dan dinilai membutuhkan bantuan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Satu per satu nasi bungkus berpindah tangan. Pengendara, pekerja, hingga warga yang kebetulan melintas menerima makanan tersebut. Tidak ada seremoni panjang, tidak pula ada jarak antara mereka yang memberi dan menerima.
Ketua KBS Sumenep Ahmad Zahruddin mengatakan, kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian komunitas terhadap masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, berbagi dapat dilakukan dengan cara sederhana.
“Kami membagikan 75 bungkus nasi kepada masyarakat yang melintas, terutama mereka yang benar-benar membutuhkan. Semoga apa yang kami lakukan ini memberikan manfaat.” kata Akhmad Sahruddin, S.H., disela-sela kegiatan, Jum’at (28/08/2026).
Bagi KBS Sumenep, bungturat bukan sekadar kegiatan membagikan makanan. Ada pesan sosial yang ingin disampaikan, bahwa kepedulian terhadap sesama tidak selalu membutuhkan biaya besar maupun kegiatan yang megah.
Ahmad menilai, membantu orang lain bisa dimulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan memastikan ada makanan yang bisa dinikmati oleh mereka yang mungkin sedang membutuhkan.
“Berbagi tidak harus menunggu memiliki sesuatu yang besar. Dari hal sederhana pun kita bisa membantu dan memberikan manfaat kepada orang lain.” ujarnya.
Menurut dia, kehidupan di jalan raya mempertemukan banyak orang dengan kondisi yang berbeda. Ada pengendara yang sedang bekerja, pekerja yang mengejar waktu, hingga warga yang mungkin belum sempat memenuhi kebutuhan makanannya.
Karena itu, nasi bungkus yang dibagikan diharapkan tidak hanya mengisi perut, tetapi juga menghadirkan rasa bahwa masih ada masyarakat yang peduli terhadap sesamanya.
“Kami ingin kegiatan seperti ini terus dilakukan. Mudah-mudahan semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berbagi dan membantu mereka yang membutuhkan.” jelas Akhmad sapaannya.
KBS Sumenep pun berharap bungturat dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas. Bukan sekadar agenda komunitas, melainkan kebiasaan baik yang tumbuh dari kesadaran masyarakat.
Ahmad menegaskan, nilai sebuah pemberian tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya sesuatu yang diberikan. Ketulusan dan manfaat yang dirasakan penerima menjadi bagian terpenting dari kegiatan tersebut.
“Apa yang kami berikan mungkin sederhana, tetapi kami berharap bisa berarti bagi penerimanya. Semoga kepedulian ini terus tumbuh di tengah masyarakat.” pungkasnya.
Aksi KBS Sumenep akhirnya berakhir setelah seluruh nasi bungkus tersalurkan. Tidak ada panggung besar ataupun sorotan khusus. Hanya tangan yang memberi dan tangan yang menerima.
Namun, dari 75 bungkus nasi itulah sebuah pesan sederhana mengemuka: kebaikan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang, ia hadir dalam sebungkus nasi yang diberikan tepat ketika seseorang sedang membutuhkan.
Di tengah bising kendaraan dan kerasnya kehidupan jalanan, bungturat KBS Sumenep menjadi pengingat bahwa kepedulian masih memiliki tempat. Sebab, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan dengan ketulusan, selalu punya cara sendiri untuk menyentuh hati manusia.
Penulis : Zahid Badri
Editor : Thaifur Rasyid
Sumber Berita: OkeDailyJatim















