Peringati 30 Tahun Kudatuli di Sumenep, Ketua DPC PDI Perjuangan Serukan Persatuan Bangsa

- Editorial Team

Senin, 27 Juli 2026 - 23:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua DPC PDI-P Kabupaten Sumenep Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo SH MH di Acara Peringatan Kuda Tuli di Kantor PDI-P Sumenep

Ketua DPC PDI-P Kabupaten Sumenep Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo SH MH di Acara Peringatan Kuda Tuli di Kantor PDI-P Sumenep

SUMENEP, OkeDailyJatim – Tiga puluh tahun berlalu sejak Peristiwa Kudatuli menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Di Kabupaten Sumenep, momentum itu diperingati melalui refleksi sejarah, doa bersama, dan santunan anak yatim yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumenep di Kantor DPC PDI Perjuangan, Jalan Lingkar Barat, Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, Senin (27/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, kader partai, serta masyarakat. Peringatan itu menjadi ruang bersama untuk mengenang perjalanan demokrasi sekaligus memperkuat komitmen menjaga persatuan bangsa dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumenep, Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, SH., MH., mengatakan peringatan 30 tahun Kudatuli bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, melainkan momentum untuk mengambil pelajaran agar demokrasi Indonesia terus tumbuh dengan damai dan bermartabat.

“Kudatuli adalah bagian dari perjalanan sejarah bangsa. Kita tidak boleh melupakan sejarah, tetapi yang jauh lebih penting adalah mengambil hikmah agar demokrasi Indonesia terus berkembang dengan menjunjung tinggi persatuan dan kemanusiaan,” kata Dr. Achmad Fauzi Wongsojudo.

Menurutnya, setiap perjalanan bangsa selalu menghadirkan pelajaran yang harus diwariskan kepada generasi muda. Karena itu, sejarah harus menjadi pengingat agar perbedaan tidak lagi melahirkan konflik yang merugikan masyarakat.

“Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Yang harus kita jaga adalah bagaimana perbedaan itu diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan semangat gotong royong, bukan dengan kekerasan,” ujarnya.

Dr. Achmad Fauzi menjelaskan, berdasarkan catatan sejarah, Peristiwa Kudatuli meninggalkan duka mendalam dengan adanya korban jiwa, korban luka, hingga mereka yang dinyatakan hilang. Namun, menurutnya, peringatan tersebut tidak bertujuan membuka kembali luka lama, melainkan memperkuat semangat persaudaraan.

“Refleksi ini bukan untuk menghidupkan kembali konflik masa lalu, tetapi menjadi pengingat bahwa persatuan bangsa adalah fondasi utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas dia yang sosok orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep itu

Tak hanya menggelar doa bersama dan tahlil, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumenep juga memberikan santunan kepada puluhan anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial. Prosesi santunan berlangsung khidmat dan menjadi simbol bahwa semangat perjuangan harus diwujudkan melalui aksi nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat.

“Nilai kemanusiaan harus menjadi ruh dalam setiap momentum perjuangan. Karena itu, kami ingin peringatan Kudatuli juga menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim sebagai bentuk kepedulian dan semangat gotong royong yang terus kami rawat,” pungkasnya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi bertema kemanusiaan oleh budayawan Ibnu Hajar serta orasi sejarah Kudatuli yang disampaikan kader PDI Perjuangan, Darul Hasyim Fath.

Baca Juga:  81 Tahun Merdeka, Saatnya Melihat Madura Tanpa Stigma

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PCNU Sumenep, Ketua PD Muhammadiyah Sumenep, Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), sejumlah organisasi kepemudaan, serta berbagai elemen masyarakat yang bersama-sama mendoakan para korban dan berharap demokrasi Indonesia terus tumbuh dalam suasana damai.

Baca Juga:  Semangat Kemerdekaan dari Gapura, Jalan Sehat HUT RI ke-81 Jadi Ajang Pererat Persaudaraan

Peringatan 30 tahun Kudatuli di Sumenep menjadi penegasan bahwa sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga menjadi pijakan moral dalam membangun demokrasi yang dewasa, menjaga persatuan, memperkuat kepedulian sosial, dan memperkokoh semangat kebangsaan di tengah keberagaman Indonesia.

Facebook Comments Box

Penulis : Syahid Badri

Editor : Thaifur Rasyid

Sumber Berita: OkeDailyJatim

Follow WhatsApp Channel jatim.okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yonif TP 931 Hadiri Maulid Nabi di Masjid Jamik Sumenep, Kebersamaan Jadi Pesan Utama
Parenting Keluarga Via Zoom, Danyonif TP 931/Ksatria Jokotole Tekankan Peran Penting Orang Tua
Kemenag Sumenep Gebrak Zona Integritas, Guru PAI Diminta Perkuat Keteladanan
Terbongkar Setelah Korban Murung, Warga Giligenting Ditangkap Polisi karena Dugaan Pencabulan Anak
Sabet Juara II Baca Puisi, Nailatul Marom Angkat Derajat Madrasah Sumenep di Kancah Kabupaten
Peringati Maulid Nabi, Rutan Kelas IIB Sumenep Tutup Operasional Sementara
Apel Pagi Bukan Sekadar Rutinitas, Kepala Inspektorat Sumenep: Momentum Awal Konsolidasi
NU Sumenep Gerakkan Pendidikan dari MWC, LP Ma’arif Siapkan Generasi Unggul Hadapi Era Keemasan

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 04:30 WIB

Yonif TP 931 Hadiri Maulid Nabi di Masjid Jamik Sumenep, Kebersamaan Jadi Pesan Utama

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:49 WIB

Parenting Keluarga Via Zoom, Danyonif TP 931/Ksatria Jokotole Tekankan Peran Penting Orang Tua

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:21 WIB

Kemenag Sumenep Gebrak Zona Integritas, Guru PAI Diminta Perkuat Keteladanan

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:15 WIB

Terbongkar Setelah Korban Murung, Warga Giligenting Ditangkap Polisi karena Dugaan Pencabulan Anak

Senin, 24 Agustus 2026 - 04:03 WIB

Peringati Maulid Nabi, Rutan Kelas IIB Sumenep Tutup Operasional Sementara

Berita Terbaru