OkeDailyJatim – Bahasa Madura kembali mendapat ruang penting di dunia pendidikan. Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep memperkuat revitalisasi Bahasa Madura melalui Bimtek Guru Utama jenjang SMP.
Kegiatan tersebut berlangsung di SMP Negeri 3 Sumenep. Para guru dibekali pengetahuan dan keterampilan agar pembelajaran Bahasa Madura semakin hidup, menarik, serta dekat dengan peserta didik.
Bimtek Guru Utama Bahasa Daerah Madura ini menghadirkan tiga maestro, yakni Avan Fathorrahman, M.Pd., H. Abdul Azis, S.Pd., M.Pd., dan Miswan, S.Pd.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran tiga maestro menjadi energi tersendiri. Pengalaman dan pengetahuan mereka diharapkan mampu memperkuat kapasitas guru dalam mengajarkan Bahasa Madura di sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H. Muhamad Iksan, S.Pd., MT., menegaskan bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Madura.
“Bahasa Madura bukan sekadar alat komunikasi, tetapi identitas dan jati diri. Karena itu, pelestariannya harus diperkuat melalui pendidikan.” kata H. Muhammad Iksan, S.Pd.,MT.
Menurut Iksan, sekolah memiliki posisi strategis dalam menjaga Bahasa Madura tetap digunakan dan diwariskan kepada generasi muda.
“Kami berharap Guru Utama menjadi penggerak di sekolah, sehingga Bahasa Madura semakin dikenal, digunakan, dan dicintai oleh peserta didik.” harapnya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari arah Bimtek. Guru tidak hanya dituntut memahami materi, tetapi juga mampu menghidupkan Bahasa Madura dalam proses pembelajaran.
Upaya itu menjadi relevan karena pelestarian bahasa daerah membutuhkan ruang penggunaan yang nyata. Sekolah menjadi salah satu ruang strategis untuk menumbuhkan kebanggaan berbahasa.
Tiga maestro yang hadir memberikan penguatan dari berbagai pengalaman. Materi diarahkan agar guru mampu menghadirkan pembelajaran Bahasa Madura yang komunikatif dan kontekstual.
Dengan pendekatan tersebut, Bahasa Madura tidak berhenti sebagai materi pelajaran. Bahasa daerah diharapkan hadir sebagai bagian dari keseharian peserta didik di lingkungan sekolah.
Sementara, Plt Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H. Erdiyanto, S.Pd., M.Si., menegaskan Bimtek harus menghasilkan dampak setelah kegiatan berakhir.
“Guru Utama bukan sekadar peserta. Mereka harus membawa pengetahuan dari Bimtek untuk menggerakkan pembelajaran Bahasa Madura di sekolah.” ujar H. Erdiyanto, S.Pd., M.Si.

Menurut Erdiyanto, penguatan guru menjadi langkah penting untuk memperluas praktik baik. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat ditularkan kepada guru lainnya.
“Kami ingin membangun gerakan bersama, agar guru dan sekolah mampu membuat Bahasa Madura semakin dekat dengan kehidupan peserta didik.” tegasnya.
Karena itu, keberhasilan revitalisasi Bahasa Madura tidak cukup diukur dari selesainya Bimtek. Ukurannya terletak pada praktik nyata yang tumbuh di sekolah.
Guru diharapkan mampu mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif. Bahasa Madura dapat dikemas melalui cerita, percakapan, budaya lokal, hingga aktivitas yang menyenangkan bagi siswa.
Langkah tersebut membuka peluang bagi peserta didik untuk mengenal bahasa daerah tanpa merasa bahwa Bahasa Madura merupakan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.
Revitalisasi Bahasa Madura pada akhirnya bukan hanya urusan pembelajaran. Lebih jauh, langkah tersebut menyentuh persoalan identitas dan keberlanjutan budaya masyarakat Madura.
Bahasa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan nilai, tradisi, kesantunan, serta kekayaan budaya kepada generasi muda melalui lingkungan pendidikan.
Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep melalui Bimtek ini mendorong Guru Utama menjadi simpul penggerak. Dari mereka, pengetahuan diharapkan menyebar ke sekolah dan peserta didik.
Semangat itu menempatkan guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penjaga keberlanjutan bahasa dan budaya lokal di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, revitalisasi Bahasa Madura membutuhkan keterlibatan bersama. Guru, sekolah, keluarga, peserta didik, dan masyarakat memiliki ruang untuk menjaga bahasa tetap digunakan.
Dari tangan maestro, pengetahuan diwariskan. Dari tangan guru, Bahasa Madura dihidupkan. Dari sekolah, warisan budaya diteruskan kepada generasi berikutnya.
Melalui Bimtek Guru Utama Bahasa Daerah Madura Tahun 2026, Disdik Sumenep memperkuat langkah agar Bahasa Madura tidak sekadar dikenang sebagai warisan masa lalu.
Bahasa Madura harus tetap hidup, digunakan, dipelajari, dan dibanggakan oleh generasi muda sebagai bagian dari identitas masyarakat Madura.















