OkeDailyJatim – Peringatan Hari Santri 2026 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tidak hanya berlangsung dengan lantunan shalawat. Pesan tentang ilmu, harta, akhlak, hingga kontribusi santri untuk bangsa menjadi sorotan utama dalam acara Santri Bershalawat.
Kegiatan yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep bersama Ittisholana Sumenep dan Majelis Shalawat Al-Mahabbah Shonar Pornama itu berlangsung di Lapangan Kesenian Sumenep, Selasa (6/10/2026).
Acara tersebut menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sekaligus Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran Gus Kautsar menjadi magnet tersendiri bagi jamaah. Sosok yang dikenal sebagai kiai pesantren tersebut menyampaikan tausiyah dengan mengaitkan nilai-nilai keagamaan dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Sumenep, lembaga serta badan otonom NU, hingga pengurus MWCNU dan PRNU se-Kabupaten Sumenep.
Ketua PCNU Sumenep KH Md Widadi Rahim mengatakan, kehadiran Gus Kautsar dalam peringatan Hari Santri 2026 memiliki makna penting.
Menurutnya, Gus Kautsar merupakan gambaran santri yang mampu mempertahankan tradisi keilmuan pesantren sekaligus terbuka terhadap perubahan zaman.
“Beliau tetap konsisten mengajari kitab kuning, tetapi juga adaptif dengan kemajuan zaman,” ujar KH Md Widadi Rahim.
Kiai Widadi menilai kemampuan menjaga tradisi sekaligus beradaptasi menjadi salah satu karakter penting yang harus dimiliki santri saat ini.
Sebab, tantangan santri tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan memahami literatur keagamaan. Santri juga dituntut mampu membaca perubahan sosial dan memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.
Karena itu, menurut Kiai Widadi, Hari Santri harus ditempatkan lebih dari sekadar agenda tahunan. Peringatan tersebut menjadi ruang untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan santri dalam sejarah perjalanan Indonesia.
“Sejatinya kita merayakan Hari Santri bukan hanya sebatas euforia saja, tetapi mengenang kembali perjuangan para santri dalam mencapai kemerdekaan,” katanya.
Ia menegaskan, semangat perjuangan tersebut harus diterjemahkan dalam bentuk kontribusi nyata pada masa sekarang.
“Sebagai bentuk syukur, kita memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa dan negara. Tetap menjadi santri selamanya,” tegas KH. Widadi Rahim.
Dalam tausiyahnya, Gus Kautsar membawa jamaah untuk melihat kembali tujuan utama manusia diciptakan.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Wa maa khalaqtul-jinna wal-insa illaa liya’buduun, yang menjelaskan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah.
Namun, Gus Kautsar mengingatkan bahwa makna ibadah tidak berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dan Allah SWT.
Mengutip penafsiran Syekh Nawawi Al-Bantani, ia menjelaskan bahwa kehidupan manusia juga memiliki dimensi sosial yang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab kepada sesama.
Dari titik inilah Gus Kautsar kemudian menjelaskan tentang sikap manusia dalam melihat keberhasilan, harta, ilmu, dan kehidupan orang lain.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak terjebak dalam iri hati maupun hasutan ketika melihat seseorang memperoleh kelebihan dari Allah SWT.
“Tidak layak kita sebagai hamba iri dan hasut dengan takdir orang lain,” ungkap Gus Kautsar.
Menurutnya, Islam mengenal konsep ghibthah, yakni keinginan untuk memperoleh kebaikan serupa yang dimiliki orang lain tanpa disertai kebencian.
Gus Kautsar menjelaskan, Rasulullah memberikan gambaran mengenai dua kelompok manusia yang layak menjadi objek ghibthah.
Pertama, orang yang diberikan keluasan harta oleh Allah SWT, kemudian menggunakan harta tersebut untuk kebaikan.
Kedua, orang yang diberikan hikmah atau ilmu agama, kemudian mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan.
Menurut Gus Kautsar, kekayaan tidak menjadi persoalan selama diperoleh melalui jalan yang baik dan digunakan untuk kemaslahatan.
Dengan demikian, keberhasilan seseorang tidak semestinya menjadi alasan bagi orang lain untuk iri. Sebaliknya, keberhasilan tersebut dapat menjadi inspirasi untuk melakukan kebaikan yang sama.
Pesan serupa berlaku bagi orang berilmu. Ilmu tidak cukup hanya disimpan dalam pikiran atau disampaikan melalui lisan.
Ilmu harus melahirkan tindakan, akhlak, dan manfaat bagi orang lain.
“Dalam konteks tersebut, hikmah mencakup pengetahuan keagamaan, pemahaman terhadap aturan fikih, serta pengetahuan dan pengamalan sunnah-sunnah Rasulullah,” pungkasnya.
Pesan yang disampaikan dalam Santri Bershalawat tersebut mempertegas kembali posisi santri di tengah perubahan zaman.
Santri tidak cukup hanya dikenal karena identitas dan tradisi pesantrennya. Lebih dari itu, santri diharapkan mampu menjadikan ilmu sebagai dasar dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.
Peringatan Hari Santri 2026 di Sumenep pun menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa perjuangan santri tidak berhenti setelah kemerdekaan Indonesia diraih.















