SUMENEP, OkeDailyJatim – Di tengah hamparan laut yang memisahkan pulau-pulau kecil di Kabupaten Sumenep, sebuah tangisan bayi memecah keheningan ruang operasi Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) yang tengah bersandar di Pulau Raas. Tangisan itu bukan sekadar pertanda lahirnya seorang anak, tetapi menjadi simbol kemenangan harapan atas keterbatasan akses layanan kesehatan yang selama ini membayangi masyarakat kepulauan.
Bayi laki-laki yang kemudian dijuluki “Anak Kapal” itu lahir dalam kondisi sehat dan stabil melalui operasi sesar yang dilakukan di atas rumah sakit terapung. Kelahiran tersebut sekaligus mencatat sejarah sebagai persalinan ke-101 yang berhasil ditangani RSKKA selama menjalankan misi Bakti Kesehatan di pulau-pulau terluar Indonesia.
Di balik kebahagiaan itu tersimpan kisah perjuangan sebuah keluarga dari Pulau Putri, Kecamatan Raas. Sang ibu mengalami kehamilan post-date dengan kondisi yang berisiko sehingga secara medis membutuhkan tindakan operasi sesar. Pilihan terbaik sebenarnya adalah merujuk pasien ke rumah sakit di daratan Sumenep. Namun kenyataan berkata lain. Keterbatasan ekonomi membuat keluarga nyaris kehilangan kesempatan memperoleh pelayanan medis yang layak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi tersebut mendorong tim medis RSKKA mengambil keputusan besar. Alih-alih mengirim pasien ke daratan, mereka membawa layanan operasi lengkap langsung ke tengah lautan.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSKKA, dr. Alif Firdaus Wafa, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi medis pasien dan kemampuan ekonomi keluarganya.
“Awalnya kami merencanakan pasien dirujuk ke rumah sakit di daratan Sumenep karena kasus ini masih memungkinkan untuk dirujuk. Namun setelah mengetahui kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan, kami memutuskan memberikan tindakan operasi di Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga agar keselamatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas,” kata dr. Alif dalam keterangan tertulis kepada media ini, Selasa (28/07/2026).
Menurutnya, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Menunda tindakan hanya akan meningkatkan risiko bagi ibu dan bayi.
“Apabila tidak segera dilakukan tindakan, pasien berpotensi melahirkan tanpa pendampingan tenaga kesehatan yang memadai. Risiko komplikasi tentu jauh lebih besar. Karena itu kami memilih langkah medis yang paling aman dengan melakukan operasi sesar di atas kapal,” ujarnya.
Operasi dilakukan melalui kolaborasi dokter spesialis obstetri, dokter anestesi, tenaga keperawatan, serta tim bedah RSKKA. Seluruh prosedur berjalan lancar hingga ibu dan bayi dinyatakan selamat. Usai operasi, pasien dipindahkan secara hati-hati menuju ambulans untuk menjalani perawatan lanjutan di Puskesmas Raas.
Bagi dr. Alif, keberhasilan tersebut bukan sekadar keberhasilan tindakan operasi, melainkan bukti bahwa pelayanan kesehatan modern dapat hadir hingga wilayah yang selama ini sulit dijangkau.
“Kelahiran bayi ke-101 ini membuktikan bahwa kualitas layanan kesehatan tidak boleh dibatasi oleh letak geografis. Setiap ibu memiliki hak yang sama untuk melahirkan dengan aman, dan setiap bayi berhak mendapatkan awal kehidupan yang terbaik, di mana pun mereka dilahirkan,” tegas Dr. Alif.
Suasana haru juga dirasakan Ahmad Rasidin, ayah sang bayi sekaligus warga Pulau Putri. Baginya, kehadiran Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga telah menghadirkan harapan baru bagi masyarakat kepulauan yang selama ini harus menghadapi perjalanan laut berjam-jam hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan spesialistik.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur ibu dan bayi selamat. Terima kasih kepada seluruh tim Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga yang memberikan pelayanan dengan penuh perhatian dan profesional. Kehadiran rumah sakit terapung ini menjadi harapan besar bagi masyarakat di pulau-pulau kecil,” ungkap Ahmad.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung misi kemanusiaan tersebut sehingga masyarakat kepulauan dapat merasakan pelayanan kesehatan yang setara dengan masyarakat di perkotaan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Airlangga, HCML, Konsulat Jenderal Australia, tenaga kesehatan, para relawan, dan semua pihak yang telah menghadirkan pelayanan luar biasa ini. Semoga program seperti ini terus berlanjut agar semakin banyak masyarakat kepulauan yang terbantu,” katanya.
Pulau Raas merupakan lokasi kedua dalam rangkaian Bakti Kesehatan RSKKA 2026 yang mengusung tema “Penyakit Katastropik di Kepulauan: Deteksi Dini dan Upaya Promotif, Preventif, dan Kuratif Menuju Pulau Sehat, Produktif, dan Bahagia.” Program ini juga menjangkau Kecamatan Bluto, Pulau Karamian, dan Pulau Masalembu dengan menerjunkan 31 relawan yang terdiri atas dokter spesialis, dokter umum, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya.
Program kemanusiaan tersebut digagas Yayasan Ksatria Medika Airlangga bersama Universitas Airlangga dengan dukungan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), Pemerintah Australia melalui Konsulat Jenderal Australia, Kementerian Kesehatan RI, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), BPJS Kesehatan, OneMed, RSUD Dr. Soetomo, Aperindo, Pelindo, serta Pemerintah Kabupaten Sumenep.
Lahirnya bayi ke-101 di atas Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga bukan hanya menjadi catatan keberhasilan sebuah operasi sesar. Peristiwa ini menjadi penegas bahwa inovasi pelayanan kesehatan mampu menembus batas geografis, mempersempit kesenjangan layanan medis antara daratan dan kepulauan, serta menghadirkan harapan baru bagi ribuan warga yang selama ini hidup jauh dari rumah sakit rujukan. Dari Pulau Raas, lahir sebuah pesan kemanusiaan yang sederhana namun kuat: tak ada jarak yang terlalu jauh ketika keselamatan manusia menjadi tujuan utama.
Penulis : Slamet Bae
Editor : Thaifur Rasyid
Sumber Berita: OkeDailyJatim










