OkeDailyJatim – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia jurnalistik. Di balik kemudahan mengolah data dan menyusun bahan berita, teknologi ini juga menghadirkan tantangan serius terkait akurasi informasi, manipulasi konten digital, dan integritas wartawan.
Staf Ahli Bupati Sumenep Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Dedi Falahuddin, mengingatkan insan pers agar tidak mengorbankan prinsip kebenaran demi kecepatan publikasi. Verifikasi fakta, kredibilitas sumber, dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik harus tetap menjadi fondasi utama dalam setiap pemberitaan.
Pesan tersebut disampaikan Dedi saat mewakili Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, dalam Seminar Jurnalistik bertema “Relevansi Etika Jurnalistik di Tengah Gempuran AI” yang diselenggarakan Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumenep di Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Rabu (28/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dedi menilai, pemanfaatan AI dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja jurnalistik, mulai dari pengolahan data hingga penyusunan materi pemberitaan. Namun, teknologi tersebut tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis maupun tanggung jawab profesional wartawan.
Menurutnya, setiap informasi yang dihasilkan atau dibantu oleh AI harus melalui pemeriksaan sebelum dipublikasikan. Langkah ini penting untuk mencegah kesalahan fakta, bias informasi, hingga penyebaran konten yang berpotensi menyesatkan masyarakat.
“AI memang dapat membantu mempercepat pekerjaan. Namun, informasi yang dihasilkan tetap harus diseleksi dan diverifikasi. Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat pemberitaan menjadi bias atau menyesatkan,” kata Dedi dalam sambutannya.
Peringatan itu menjadi relevan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi generatif yang mampu menghasilkan teks, gambar, dan video dalam waktu singkat. Tanpa proses pemeriksaan yang memadai, kemudahan tersebut berisiko mempercepat penyebaran informasi keliru di ruang digital.
Tantangan jurnalistik di era AI tidak hanya berkaitan dengan kecepatan produksi berita. Teknologi ini juga memungkinkan pembuatan atau manipulasi foto, video, dan materi digital yang sekilas tampak autentik, tetapi belum tentu mencerminkan kejadian sebenarnya.
Kondisi tersebut menuntut wartawan untuk tidak mudah mempercayai konten yang beredar di media sosial maupun platform digital lainnya. Pemeriksaan harus dilakukan dengan menelusuri asal informasi, memeriksa kredibilitas sumber, serta memastikan kesesuaian konten dengan fakta di lapangan.
Dedi menegaskan, wartawan memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas informasi yang diterima masyarakat. Karena itu, integritas dan ketelitian harus tetap dijaga meskipun industri media menghadapi tuntutan publikasi yang semakin cepat.
“AI hanyalah alat bantu. Tanggung jawab untuk memastikan kebenaran informasi tetap berada pada manusia yang menggunakannya,” terangnya.
Prinsip tersebut menegaskan bahwa penggunaan teknologi tidak menghapus tanggung jawab jurnalistik. Keputusan untuk menerbitkan berita, memastikan keakuratan informasi, dan mempertanggungjawabkan dampaknya tetap berada pada manusia yang terlibat dalam proses pemberitaan.
Selain menekankan pentingnya verifikasi, Dedi mengingatkan wartawan agar memahami dan mematuhi kode etik jurnalistik. Prinsip tersebut diperlukan untuk menjaga independensi pers serta mencegah kepentingan tertentu memengaruhi penyajian fakta.
Dalam lingkungan informasi yang bergerak cepat, wartawan dituntut mampu memilah fakta, menguji informasi, dan menyampaikan berita secara berimbang. Kecepatan publikasi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan akurasi maupun tanggung jawab kepada publik.
Seminar jurnalistik yang digelar IWO Sumenep juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, terutama mereka yang berminat menekuni profesi wartawan. Melalui forum tersebut, peserta diharapkan dapat memperluas wawasan, berdiskusi dengan praktisi, serta mengembangkan kemampuan jurnalistik secara kritis dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut, Dedi berharap kegiatan itu dapat mendorong lahirnya generasi jurnalis yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan pegangan etika profesi.
Menurutnya, kualitas pers tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan wartawan menjaga kepercayaan publik melalui pemberitaan yang faktual, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Teknologi boleh berkembang, tetapi prinsip kebenaran, integritas, dan etika jurnalistik harus tetap menjadi pegangan,” pungkasnya.
Di tengah transformasi digital, tantangan terbesar dunia jurnalistik bukan sekadar menguasai teknologi AI, melainkan memastikan setiap kemajuan tetap berpihak pada kebenaran. Sebab, kepercayaan masyarakat terhadap media dibangun melalui akurasi, independensi, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.















