OkeDailyJatim – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Duko, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, semakin dekat. Namun, hingga kini belum ada bakal calon yang secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk maju dalam kontestasi demokrasi tingkat desa tersebut.
Situasi ini memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat. Warga mulai menantikan sosok yang akan tampil sebagai calon pemimpin sekaligus membawa harapan baru bagi masa depan Desa Duko.
Di tengah belum jelasnya peta persaingan, berkembang isu mengenai kemungkinan persaingan antara keluarga petahana dengan keluarga petinggi desa. Namun, informasi tersebut masih sebatas perbincangan masyarakat dan belum terkonfirmasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlepas dari dinamika tersebut, masyarakat memiliki harapan yang jauh lebih besar. Desa Duko membutuhkan pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat, bukan sekadar memperjuangkan kepentingan keluarga maupun kelompok pendukungnya.
Pilkades bukan panggung untuk mempertahankan kekuasaan keluarga. Momentum demokrasi ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan dan masa depan Desa Duko secara terbuka.
Warga menginginkan kepala desa yang selalu hadir ketika dibutuhkan. Sosok yang mampu mendengarkan keluhan, menerima kritik, memberikan pelayanan adil, serta tidak membedakan masyarakat karena hubungan keluarga atau pilihan politik.
Jabatan kepala desa bukanlah fasilitas untuk menikmati kekuasaan. Sebaliknya, posisi tersebut merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab kepada seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Karena itu, setiap bakal calon yang berniat maju perlu berani menyampaikan visi dan misi secara terbuka. Masyarakat membutuhkan gagasan nyata, bukan sekadar janji politik menjelang pelaksanaan Pilkades.
Sejumlah persoalan penting perlu menjadi perhatian calon pemimpin. Mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, transparansi anggaran desa, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga pemerataan pembangunan.
Selain program, masyarakat juga perlu mengetahui langkah konkret untuk merealisasikannya. Sebab, visi tanpa perencanaan dan misi tanpa komitmen hanya akan menjadi janji yang mudah dilupakan setelah pemilihan selesai.
Jangan sampai masyarakat hanya menjadi sasaran untuk mengumpulkan dukungan politik. Setelah mendapatkan jabatan, pemimpin justru menutup telinga terhadap aspirasi dan kebutuhan warga yang telah memberikan kepercayaan.
Desa Duko membutuhkan pemimpin yang mau turun langsung ke tengah masyarakat. Mendengarkan persoalan warga, memahami kebutuhan lingkungan, serta menjadikan kepentingan umum sebagai dasar setiap kebijakan pemerintahan desa.
Siapa pun yang nantinya maju dalam Pilkades Desa Duko, masyarakat berharap seluruh tahapan berlangsung damai, demokratis, dan bermartabat. Perbedaan pilihan politik tidak boleh merusak persaudaraan antarwarga.
Para calon hendaknya tidak hanya berlomba mendapatkan suara masyarakat. Lebih dari itu, mereka harus mampu menunjukkan kesungguhan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat melalui kerja nyata dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, Desa Duko tidak sekadar membutuhkan seseorang yang ingin menduduki kursi kepala desa. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang bersedia mengabdi, melayani, dan bekerja untuk seluruh warga tanpa terkecuali.
Sebab, keberhasilan seorang kepala desa bukan diukur dari besarnya kekuasaan yang dimiliki. Ukuran sesungguhnya terletak pada seberapa besar manfaat dan perubahan positif yang dirasakan masyarakat selama kepemimpinannya.















