OkeDailyJatim – Sejumlah wilayah di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mulai diguyur hujan seiring memasuki masa peralihan musim atau pancaroba. Kondisi ini menjadi penanda perubahan cuaca yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama terhadap potensi hujan mendadak, angin kencang hingga puting beliung.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Trunojoyo Kalianget, Sumenep, menjelaskan, perubahan kondisi atmosfer di sekitar Madura mulai mendukung pertumbuhan awan konvektif. Melemahnya angin serta meningkatnya pasokan uap air dari perairan yang relatif hangat menjadi faktor pemicu terbentuknya awan hujan.
“Wilayah Madura, termasuk Sumenep, saat ini mulai memasuki masa pancaroba. Kondisi tersebut ditandai dengan melemahnya angin dan mulai tumbuhnya awan-awan konvektif. Apalagi, suhu perairan di sekitar Madura relatif hangat sehingga pasokan uap air ke daratan cukup melimpah.” kata Ari Widjajanto kepada media ini, Jum’at (30/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BMKG mengamati pertumbuhan awan konvektif telah terlihat sejak beberapa hari terakhir. Fenomena tersebut berpotensi memicu hujan bersifat sporadis atau tidak merata, dengan waktu kejadian yang sulit dipastikan. Intensitasnya pun dapat berubah, mulai ringan, sedang hingga deras dalam durasi relatif singkat.
“Pertumbuhan awan-awan konvektif ini akan terus terjadi dengan karakteristik hujan sporadis. Artinya, hujan bisa turun secara tiba-tiba dan tidak merata, dengan durasi yang terkadang singkat. Intensitasnya juga bervariasi, mulai ringan, sedang hingga deras di sejumlah wilayah.” ujarnya.
Selain hujan mendadak, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang hingga puting beliung yang dapat menyertai pertumbuhan awan konvektif. Perubahan cuaca secara cepat, dari panas terik menjadi hujan dan disusul angin kencang, menjadi karakteristik yang perlu diperhatikan selama pancaroba.
“Hal yang perlu diwaspadai pada masa pancaroba adalah perubahan cuaca yang berlangsung cepat, mulai dari kondisi panas, kemudian hujan, hingga munculnya angin kencang. Potensi angin kencang dan puting beliung juga perlu menjadi perhatian masyarakat karena dapat terjadi bersamaan dengan hujan.” jelas Ari Widjajanto.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak lengah setelah melewati musim kemarau yang ditandai suhu panas dan kekeringan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kerawanan kebakaran, sementara memasuki musim hujan, ancaman bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir dan angin kencang perlu diantisipasi.
Berdasarkan perkiraan awal musim hujan, sejumlah wilayah di Sumenep diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada Dasarian II atau periode sepuluh hari kedua. Wilayah tersebut meliputi sebagian Sumenep bagian selatan dan barat daya, serta Kepulauan Masalembu. Sementara wilayah lainnya umumnya diprakirakan menyusul pada Dasarian III.
“Untuk awal musim hujan di wilayah Sumenep, terdapat beberapa daerah yang diperkirakan mulai pada Dasarian II, yakni sebagian wilayah selatan dan barat daya Sumenep serta Masalembu. Sementara sebagian wilayah lainnya diprakirakan memasuki awal musim hujan pada Dasarian III.” pungkas Ari Widjajanto.
BMKG mengimbau masyarakat agar mulai mempersiapkan diri menghadapi peningkatan curah hujan dengan menjaga kesehatan, membersihkan lingkungan, serta memastikan saluran drainase tidak tersumbat. Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap pohon rawan tumbang dan potensi dampak cuaca ekstrem di lingkungan sekitar.
Peralihan musim ini menjadi momentum bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG perlu terus dipantau agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi sebelum cuaca buruk terjadi.















